Kamis, 19 November 2015

Kisah si anak sulung yang tidak membenci anak bungsu

Bila memang anak kesayangan bunda, karena Bila yang paling mirip dengan bunda. Bila langsing dan berkacamata seperti bunda waktu muda. Bila juga gemar membaca dan ngga suka jalan-jalan. Bila suka nya makan, dan beruntungnya Bila punya pacar yang sering nraktir makan. Bunda juga sayang sama pacar Bila. kata Bunda pacar Bila pinter ngaji, selain punya rumah lima dan bawa honda jazz sendiri. Bila memang manis dan easy to be loved. sebagai kakak pun aku menyayangi Bila, walaupun Bunda kadang tidak adil.

adalah hal wajar saat seorang anak sulung merasa bundanya lebih menyayangi si bungsu. dari kecil pun, doktrin mengenai kedengkian si sulung dan ketulusan si bungsu sudah menyergap otak masing-masing anak lewat lembaran buku dongeng. sebagai seorang anak sulung yang selalu dibacakan dongeng sebelum tidur, akhirnya aku merasa takut menjadi seorang anak sulung. aku takut menjadi seorang penuh dengki. aku takut berakhir pada masa depan yang suram. tapi dengan berat hati aku harus mengatakan, si bungsu memang lebih dimanjakan. sedangkan si sulung harus bekerja lebih keras, karena dia dinilai lebih tua.

saat aku berumur dua belas tahun, aku mendapat tugas cuci piring. Bila yang masih berumur tujuh tahun bertugas ngelap meja makan saja. sampai saat umurku dua puluh tiga tahun, tugasku tetap mencuci piring, lalu Bila? Bunda bilang Bila sibuk sama kuliahnya, jadi aku yang harus bersih-bersih rumah. kan aku yang pengangguran. oh, great.

hal-hal semacam ini yang kadang membuatku merasa rumah adalah neraka. seolah hidupku belum cukup berat merantau di kota orang, di rumah sendiri pun aku masih harus romusha. Bunda menganggapku seperti malaikat penyelamat, yang akan membereskan rumah dari segala jenis kekotoran. sepertinya bunda berharap terlalu banyak, karena yang aku inginkan dari rumah hanyalah tidur. terkadang aku berpikir, apa guna bunda punya anak perempuan seperti Bila? bukankah Bila sering dirumah? tapi yang terjadi, selalu aku yang harus membereskan rumah dengan alasan bunda lelah dan Bila sibuk kuliah. selama aku tidak pulang, ya rumah tidak bersih. rumah bersih kalo aku pulang. aku kan malaikat kebersihan. Eh ? mulia sekali tugasku.

hal yang baru saja terjadi, aku dibangunkan pukul lima pagi. Bunda minta bantuan jaga warung. sedangkan Bila tidur pulas hingga jam delapan pagi. katanya kasian Bila capek kuliah. oh ya, seolah aku tidak lelah baru sampai ke Surabaya pukul sepuluh malam setelah dari perjalanan jauh usai bekerja seperti romusha di kota orang. Lalu Bila berangkat kuliah. nenek memanggilku, menyuruhku membereskan kamar. Aku hanya tidur disana selama beberapa jam dan aku yang harus membereskan segala keberantakan di kamar. oh ya aku lupa, Bila kan capek kuliah. mana sempat ia membereskan kamarnya sendiri. aku lah yang harus membereskannya, karna aku malaikat kebersihan. hah?

entahlah, dongeng yang mendoktrin ku dari kecil ini memang terasa nyata. tapi aku berusaha tidak mencelakakan si bungsu. yang kubuuhkan hanya pergi yang jauh saja. sayangnya dompetlu sudah tidak ada isinya. bagi kalian yang singgah membaca blog ini, sudikah memberiku kesempatan untuk bekerja sambil jalan-jalan? aku siap menjadi reporter atau apa saja, asal jangan suruh aku menjadi anak sulung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar