Kamis, 19 November 2015

Kisah si anak sulung yang tidak membenci anak bungsu

Bila memang anak kesayangan bunda, karena Bila yang paling mirip dengan bunda. Bila langsing dan berkacamata seperti bunda waktu muda. Bila juga gemar membaca dan ngga suka jalan-jalan. Bila suka nya makan, dan beruntungnya Bila punya pacar yang sering nraktir makan. Bunda juga sayang sama pacar Bila. kata Bunda pacar Bila pinter ngaji, selain punya rumah lima dan bawa honda jazz sendiri. Bila memang manis dan easy to be loved. sebagai kakak pun aku menyayangi Bila, walaupun Bunda kadang tidak adil.

adalah hal wajar saat seorang anak sulung merasa bundanya lebih menyayangi si bungsu. dari kecil pun, doktrin mengenai kedengkian si sulung dan ketulusan si bungsu sudah menyergap otak masing-masing anak lewat lembaran buku dongeng. sebagai seorang anak sulung yang selalu dibacakan dongeng sebelum tidur, akhirnya aku merasa takut menjadi seorang anak sulung. aku takut menjadi seorang penuh dengki. aku takut berakhir pada masa depan yang suram. tapi dengan berat hati aku harus mengatakan, si bungsu memang lebih dimanjakan. sedangkan si sulung harus bekerja lebih keras, karena dia dinilai lebih tua.

saat aku berumur dua belas tahun, aku mendapat tugas cuci piring. Bila yang masih berumur tujuh tahun bertugas ngelap meja makan saja. sampai saat umurku dua puluh tiga tahun, tugasku tetap mencuci piring, lalu Bila? Bunda bilang Bila sibuk sama kuliahnya, jadi aku yang harus bersih-bersih rumah. kan aku yang pengangguran. oh, great.

hal-hal semacam ini yang kadang membuatku merasa rumah adalah neraka. seolah hidupku belum cukup berat merantau di kota orang, di rumah sendiri pun aku masih harus romusha. Bunda menganggapku seperti malaikat penyelamat, yang akan membereskan rumah dari segala jenis kekotoran. sepertinya bunda berharap terlalu banyak, karena yang aku inginkan dari rumah hanyalah tidur. terkadang aku berpikir, apa guna bunda punya anak perempuan seperti Bila? bukankah Bila sering dirumah? tapi yang terjadi, selalu aku yang harus membereskan rumah dengan alasan bunda lelah dan Bila sibuk kuliah. selama aku tidak pulang, ya rumah tidak bersih. rumah bersih kalo aku pulang. aku kan malaikat kebersihan. Eh ? mulia sekali tugasku.

hal yang baru saja terjadi, aku dibangunkan pukul lima pagi. Bunda minta bantuan jaga warung. sedangkan Bila tidur pulas hingga jam delapan pagi. katanya kasian Bila capek kuliah. oh ya, seolah aku tidak lelah baru sampai ke Surabaya pukul sepuluh malam setelah dari perjalanan jauh usai bekerja seperti romusha di kota orang. Lalu Bila berangkat kuliah. nenek memanggilku, menyuruhku membereskan kamar. Aku hanya tidur disana selama beberapa jam dan aku yang harus membereskan segala keberantakan di kamar. oh ya aku lupa, Bila kan capek kuliah. mana sempat ia membereskan kamarnya sendiri. aku lah yang harus membereskannya, karna aku malaikat kebersihan. hah?

entahlah, dongeng yang mendoktrin ku dari kecil ini memang terasa nyata. tapi aku berusaha tidak mencelakakan si bungsu. yang kubuuhkan hanya pergi yang jauh saja. sayangnya dompetlu sudah tidak ada isinya. bagi kalian yang singgah membaca blog ini, sudikah memberiku kesempatan untuk bekerja sambil jalan-jalan? aku siap menjadi reporter atau apa saja, asal jangan suruh aku menjadi anak sulung.

Senin, 28 September 2015

yang harus dilakukan ketika kamu tak lagi memiliki pekerjaan

ada sistem aneh yang bergerilya di indonesia. normalnya manusia menghabiskan 12 tahun masa wajib sekolah, itu belum termasuk TK dan Play Group. lalu dilanjutkan ke Perguruan Tinggi. normalnya tambah 4 tahun lagi, tapi bisa juga 5-7 th. ambil saja tengah-tengahnya, orang Indonesia menghabiskan kurang lebih 17 tahun hanya untuk sekolah. lalu kenapa masih buang sampah sembarangan ? *plakkk*

maaf, bukan sampah yang mau saya bahas disini.

selepas urusan dengan pergesaran arah toga, umumnya para fresh graduate akan mencari pekerjaan. mereka berlomba-lomba mempromosikan diri mereka agar dipekerjakan di perusahaan-perusahaan besar atau instansi pemerintah. lalu bagaimana dengan mereka yang tidak lolos seleksi ?

1. Stress
tentunya kebanyakan warga Indonesia sangat suka bergossip. menurut cerita seorang kawan baru-baru ini, saat dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dia akan tetap berpakaian rapi dan bersepatu lalu keluar rumah sebelum pukul 8 pagi. karena tetangga akan terus menggunjingkan pola hidup orang lain.

"eh, anaknya bu ANU, udah sarjana masih aja belum kerja"
"Eh anakanya bu ITU, mana bisa nikah kalo masih belum punya kerjaan?"

sebentar, apa ada larangan menikah bagi anda yang tidak bekerja? kalo emang uda jodoh, masa' mau gak dinikahin karna ga ada biaya? jika konsep perjodohan ditekankan pada pekerjaan, tidak akan heran kalau di Indonesia terjadi banyak perzinahan. karna kurang modal!

2. Luntang-lantung
Melanjutkan cerita yang dialami oleh kawan saya, meskipun jam 8 pagi dia sudah berpakaian rapi dan pergi untuk menghindari gossip, tapi ia tak punya tujuan lain selain warung kopi. disana ia kembali berkumpul dengan teman2 mahasiswa yang juga masih belum lulus untuk sekedar bernyanyi lepas isi hati lalu ber haha-hihi. pokoknya bebas dari gunjingan mulut-mulut yang minta diikat belati.
inilah salah satu sebab mengapa Tuhan tidak menyukai mereka yang bergunjing, karena bisa menutup akal sehat seseorang.

3. Batal Nikah
Kembali pada pasal satu, no money no marry. orang tua selalu takut anak mereka akan hidup kekurangan jika tidak bekerja. bekerja itu pun akan kembali di kotak-kotakkan, menjadi pekerja kantoran. padahal, kata salah satu iklan rokok, "ngantor ga harus indoor".
Kembali bercerita tentang kawan saya yang tadi, perempuannya terpaksa harus pergi karena ayahnya lebih memilih pria lain yang lebih mapan. untung saja kawan saya tadi tidak bunuh diri.

Maka  dari itu, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang demikian diatas, jika kau adalah seorang sarjana yang tidak juga mendapat pekerjaan, lakukanlah beberapa tips ringan dibawah ini :

1. Pergilah dari rumah
Seperti yang dilakukan temanku, untuk menghindari gossip murahan. kamu bisa ber haha-hihi di warung kopi atau ke tempat lain yang kamu sukai. pergilah. tapi temukan manfaat di setiap langkah kaki mu. temukan peluang, meskipun kecil.
percayalah, di warung kopi apapun bisa terjadi. bermula dari pinjam korek, kau bisa banyak mengobrol hingga transaksi. jual beli akik misalnya. jangan dilihat dari transaksinya, tapi ilmu dari transaksi itu sendiri.
atau pergi berkelana yang jauh sekalian. manusia akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat sudah dicekam rasa lapar. di rumah kau menemukan kecukupan, tapi diluar sana? siapa yang bisa menjamin hidupmu? dari situ kau pasti akan tau, apa kemampuan terbaikmu

2. Coba hal baru
 Jangan pernah takut untuk gambling dengan hidupmu. cobalah hal baru. buat kesalahan. maka kau akan menemukan kebenaran. sukur-sukur pengalaman itu berbuah uang. hihihihi.

3. Menulis
ini metode dariku. selepas oktober esok, aku akan resmi menjadi pengangguran. aku juga masih belum mendapatkan pekerjaan pengganti. tapi aku tetap tak ingin pulang ke rumah. aku ingin teteap disini, dan menulis setiap hari. tentang apa yang ku dapatkan hari itu. mungkin saja akau akan meniru temanku tadi, yang akhirnya memulai usahanya untuk menjadi makelar everything. mungkin aku juga akan menclok ke tempat temanku lainnya untuk belajar hal lain. dan kemungkinan lainnya akan segera ku tuliskan, segera, di bulan ke sebelas.

yang aku tau, Indonesia ini tanahnya subur. tak memiliki pekerjaan bukan berarti kau tak bisa bertahan hidup. pekerjaan cuma status. uang cuma alat tukar. sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sekitarnya. maka jagalah hubungan baik dengan tuhan, alam dan sesama manusia. menurutku, itulah pekerjaan yang paling mulia.

Kamis, 24 September 2015

cerpen : lelaki itu milik kita

ijinkan aku bertanya padamu, seperti apakah pria yang baik itu? 

dia selalu memberiku perhatian kecil dan terkadang besar. menemaniku setiap ku minta, bahkan ketika aku tidak minta sekalipun. mentraktirku jalan-jalan, belanja, makan siang dan makan malam, tapi tidak pernah sarapan, karna aku memang tidak pernah menghabiskan pagi dengannya. tidak merokok, tidak pula minum-minuman keras. ia juga tidak pernah berbohong. bahkan menciumku pun dia tak pernah. sebatas berpegangan tangan saja.
apa ada yg lebih gentleman dari dia? apakah dia sudah masuk kriteria pria yang baik?

jika kau bilang iya, aku beberkan satu kekurangannya. dia sudah punya pacar.

apa kau mau bilang dia bajingan? atau aku lah yang akan kau bilang murahan?

"aku sayang kamu, nona" katanya malam itu sambil memegang tanganku. didepanku tersaji pemandangan super romantis dengan bunga bunga bermekaran macam film india. untungnya dia tidak menari atau menyanyi. aku jawab dengan anggukan. kehidupan cinta kami berjalan mulus hingga tiga bulan kemudian ia, untuk pertama kalinya, menolak ajakanku untuk nonton. padahal mobil sudah siap berangkat dari pekarangan rumahku.

"maaf nona, aku harus pergi."
"kenapa tiba-tiba? ada apa?"
"Putri memanggilku"
"siapa itu Putri?"
"dia.... kekasihku"

aku hanya melongo. tak ada kata yang keluar. hanya air mata. dia bahkan masih bisa menatapku tegas, tanpa ada permohonan maaf.

"maaf, Nona. bisakah kau kembali masuk ke rumah? nontonnya lain kali saja."
"kamu.... sudah punya kekasih? lalu aku?"

hapenya berdering kembali. ia terlibat percakapan singkat.

"kamu ikut saja," katanya berubah pendapat tiba-tiba. "kita berangkat."

aku mengatur nafas untuk menghentikan tangis. dia tersenyum, mengusap air mataku dan menggenggam tanganku lembut.

"kamu bajingan," kataku pelan
"aku? terimakasih pujiannya. aku pikir kamu menganggapku pria idaman karena tidak merokok dan mabuk-mabukkan"
"tidak. kamu bajingan. kamu sudah punya kekasih, lalu kenapa kamu masih merayuku?"
"jadi hanya karna aku sudah punya kekasih, lalu aku di cap bajingan?"
"jelas lah. perempuan mana yang mau dimadu?"
"ada. Putri."
"oh ya, kekasihmu itu. perempuan bodoh membiarkan kekasihnya berselingkuh!"

sekali lagi ia tersenyum tenang.

"jangan sembarangan menilai orang, Nona"
"aku gak habis pikir, kenapa selama ini kamu bohong sama aku?!"
"bohong? apa aku pernah berbohong?"
"iya, kamu bohong! nyatanya kamu punya kekasih!"
"aku tanya padamu, Nona. apakah kau pernah bertanya aku punya kekasih? tidak kan? lalu apa yang kau sebut bohong"
"kenapa kamu gak bilang?!"
"karena kamu tidak bertanya"
"NON SENSE!"
"dengar, Nona. adalah suatu kebohongan jika aku berkata bahwa kau lah satu-satunya. nyatanya aku tak pernah berkata begitu. aku bilang aku menyayangimu. dan itu benar."

mobil bergerak melambat memasuki sebuah cafe dan perlahan berhenti.

"ayo masuk. aku perkenalkan kamu dengan Putri."
"kamu gila, ya?!"

dia hanya tersenyum lalu membuka pintu dan menggandengku kedalam. aku melepaskan gandengannya. manusia bangsat.

seorang perempuan berambut sebahu melambaikannya tangan padanya. bukan, tepatnya pada kami. ia tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya padaku.

"ah, jadi kamu yang bernama Nona? kenalkan, aku Putri"

bagaimana mungkin Putri bisa tersenyum manis dalam keadaan seperti ini. dan perempuan semanis Putri harus diselingkuhi? sungguh pria brengsek!

"Nona, kau mau minum apa?", tanya Putri, masih tersenyum ramah. aku menggeleng. "Baiklah, aku pesankan coklat hangat, ya? sepertinya kau habis menangis hebat. lalu segelas teh susu, itu masih jadi minuman favoritmu kan, sayang?"
dia tertawa. laki-laki brengsek itu entah kenapa masih terlihat sangat tampan dalam kebusukannya. 
Putri masih berceloteh riang menceritakan perjalanannya keliling pulau Jawa. lelaki itu menanggapi dengan tak kalah serunya. mereka lebih terlihat seperti sahabat lama daripada sepasang kekasih. aku jadi semakin bingung. apa gunanya aku ada diantara mereka?

tak lama pesanan kami datang. aku menyeruput coklat panas yang ternyata rasanya sangat nikmat. menghangatkan perut hingga hati dan pikiran.

"jadi, Nona," sapa Putri kalem. "Aku ingin berterimakasih karna kau telah membahagiakan kekasihku."
aku langsung tersedak. "ummm, Putri, ma... maaf, aku tidak bermaksud mere......."
"ssstttt, tenang, aku belum selesai bicara." Putri memotong permintaan maafku. "Dia pria yang sangat baik bukan?"
"Baik?! tidak. dia bajingan. bagaimana mungkin dia tega mengkhianatimu lalu mepermainkan perasaanku?!"
"maaf jika kau merasa dipermainkan, Nona. tapi dia tidak pernah mengkhianatiku,"

Suasana hening sejenak

"Kami sudah berhubungan cukup lama. enam tahun." kata Putri memecahkan keheningan. "Enam tahun bukan waktu singkat. entah berapa kali dia mencoba melamarku, tapi aku jawab, tunggu, aku masih ingin belajar. jika memang dia menemukan wanita lain, aku tidak akan keberatan selama dia bahagia. dan dia meminta izin padaku saat menemukanmu. aku turut bahagia untuknya. kami tidak putus, Nona. hubungan kami sudah berjalan cukup lama hingga tak lagi mementingkan status ataupun romansa. kami sahabat. kami guru dan murid. kami kakak beradik. kami saling menyayangi tanpa perlu mengkotak-kotakkan status dari kasih sayang itu sendiri....
"tahun depan perjalananku selesai, Nona. dan aku ingin meminta ijin padamu untuk menikah dengannya tahun depan. karna kau sudah terlanjur masuk dalam kehidupan kami, jadi aku rasa kau punya hak untuk memutuskan. bolehkah aku menikahinya?"

"apa kamu gila, put? tahun depan hubunganmu berusia tujuh tahun! apa hakku melarang kalian, sepasang kekasih, untuk menikah? sudah pasti aku akan merestu kalian. bahkan detik ini juga, aku dan dia resmi PUTUS!"

"Tunggu dulu, Nona. sekali lagi aku minta maaf. Kami tidak bermaksud mempermainkanmu. dia benar-benar menyayangi dan menghormatimu. dia benar menjagamu, bukan? tak pernah berbuat yang tidak-tidak padamu? aku tidak bermaksud menjadikanmu baby sitter selama aku pergi. itu semua terserah kamu, mau atau tidak. tapi aku senang dia memilihmu untuk jadi kekasihnya. kau manis, Nona, kau tau itu. dan kau tidak memaki ku untuk mempertahankan apa yang kau rasa kau miliki. tapi tolong, jangan benci dia. dia tidak pernah berbuat jahat padamu, kan?"

aku terdiam. pria brengsek itu masih saja tersenyum tenang.

"apa kriteria pria baik menurutmu, Nona?"
"Pastinya yang tidak selingkuh!"
"apakah hubungan kalian adalah sebuah perselingkuhan jika terjadi atas restu?"
"tidak untuk kalian, tapi untukku yang tak tau apa-apa, aku macam wanita murahan!"
"maka rubahlah pandanganmu, Nona. cinta yang sebenarnya tak akan membatasi dan mengkotak-kotakkan kasih sayang dengan berbagai status. orang ketiga atau wanita murahan, itu hanya status. hanya julukan. cinta itu dirasakan, Nona. bukan untuk dipikirkan."

"maafkan aku, Nona" lelaki itu angkat bicara. "maaf jika melibatkanmu dalam kisahku yang aneh untuk sebagian orang. tapi, beginilah cara kami saling mencintai. aku menyayangimu, Nona. tapi hatiku masih miliknya. apa kau masih mau menyayangiku?"

aku diam saja. lalu berdeham dengan gaya diplomatis. "aku perlu waktu untuk berpikir. antarkan aku pulang."

Putri tersenyum simpul lalu mengantarku keluar ruangan. dia masih bersikap lembut dengan membukakan pintu dan kembali menutupnya.
"aku menyayangimu," kataku. "aku tidak bisa terima jika kau jadi miliknya."
"kalau begitu kau tidak menyayangiku, Nona. kau hanya menginginkanku."

aku terdiam. terlalu sakit untuk berbicara. airmataku bahkan tak mampu berproduksi lagi.

"Kau tau, Nona. Putri memiliki cara pandang berbeda terhadap cinta. dan aku menyukai cara pandangnya. kami tidak saling membutuhkan, apalagi menginginkan. tapi kami saling mencintai. dan dengan cinta itu sendiri, kami saling melengkapi dan akhirnya menemukan satu sama lainnya."

"cukup. aku paham sekarang. aku mungkin tidak akan pernah meiliki pemikiran yang sama seperti kalian. tapi melihat kalian sudah cukup jelas untukku. aku hanya butiran debu. aku tidak memiliki keikhlasan hati untuk melepaskan sesuatu. aku paham dan sangat paham. aku menyayangimu dan aku akan merelakanmu untuk menikah dengannya. waktu berpikirku sudah cukup. aku menginginkanmu karna aku anggap kamu sempurna. padahal kesempurnaan itu sendiri mutlak hanya milik-Nya. maafkan aku. seharusnya aku mencintai-Nya, bukan emncintaimu yang hanyalah salah satu makhluk-Nya. maaf. sekarang, berbahagialah."

"apa kau akan sakit hati lalu menghilang bersama dendam?"

"tidak. tidak akan. aku tetap menyayangimu. tapi mohon ikhlaskan aku jika aku menemukan penggantimu."

"pasti. itu sudah pasti, Nona. nah kita sudah sampai. pulanglah dan mimpi yang indah."



*****************************************************

selalu dan selalu saja saya kesulitan membuat ending yang menarik. aaaarghhhhh.

Jumat, 12 Juni 2015

sampek engtay vs yes or no

Lagi-lagi saya akan membahas drama sampek dan engtay. di postingan saya yang terdahulu, saya pernah menuliskan betapa indahnya percintaan dua insan yang tak bisa bersatu ini. kemudian mereka sama-sama meninggal dan berubah menjadi kupu-kupu. disini, engtay menyamar jadi lelaki dan bertemu sampek, teman sekolahnya. mereka berpisah karena (tentu saja) status sosial. kisah cinta klasik memang selalu begitu, bukan?

lalu, saya mengamati kisah percintaan modern dari negeri gajah putih, Thailand. pernahkah anda melihat film Yes Or No? film itu menceritakan kisah cinta antara sesama perempuan alias lesbian. meskipun mereka salah, tapi cinta mereka tetap suci, sama seperti kisah cinta lelaki dan perempuan pada umumnya. Kim, si tomboy, berkata pada Pie, si cewek, bahwa jika kau jatuh cinta, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari perutmu.

dari sini saya mempertanyakan sesuatu, sepertinya ada kesamaan dalam kedua kisah cinta yang tak dapat bersatu ini. yups, KUPU-KUPU. apakah mungkin kupu-kupu ini sebagai perlambang cinta yang tak bisa bersatu?

Senin, 04 Mei 2015

cerita ini hanya fiktif belaka

Namaku Airlangga. biasa dipanggil Angga. aku bukan orang yang percaya hal mistis, meskipun ayahku pecinta keris. bukan hanya keris saja, tapi semua hal antik dan juga klenik. untunglah ayahku tidak pernah memaksaku untuk menjadi sepertinya. ia membebaskanku untuk menjadi apa saja. dan aku memilih unuk menjadi anak band. keren, kan?

Bandku cukup terkenal di kota kecil ini. The Black Shirt namanya. entah kenapa anak band, terutama yang beraliran rock, identik dengan baju hitam. fans kami juga tersebar hampir di beberapa kota disekitar kotaku. band beraliran rock dengan jumlah 5 orang pria tampan. aku gitaris 1, maher gitaris 2, Gio bassist, Feri drummer, dan vokalis yang sangat karismatis dipegang oleh Galang. Itu dulu, waktu kami masih berseragam putih abu-abu. sejak kami kuliah, kami agak sedikit berpencar. kebetulan aku dan Galang diterima di satu universitas yang sama, hanya beda jurusan.

6 tahun bukan waktu yang singkat untuk menciptakan persahabatan yang kompak. aku masih semester 5 saat Galang dikabarkan hilang. ya, hilang. sahabat terbaikku itu terseret ombak pantai selatan. aku langsung pulang ke kotaku saat itu juga. rumah Galang sudah ramai oleh pelayat. di sudut terlihat beberapa teman SMA ku berkumpul, legkap dengan para personil The Black Shirt. kulihat Jefry, salah satu teman SMA ku yang juga kuliah di Universitas dan satu jurusan dengan Galang, masih menangis.

"ini salahku," katanya tersedu. "kalau aku tidak mengajaknya dan meninggalkannya, dia tidak akan pergi seperti ini..."
beberapa kawan merangkul dan menenangkannya. aku masih ternganga.
"kemarin teman-teman sekelas mengajak liburan ke pantai. tapi Galang gak mau. aku memaksanya ikut. tapi saat hari H, aku malah pulang kampung. tau-tau ada kabar seperti ini. Jasad Galang masih belum ditemukan. seandainya aku tidak mengajaknya, atau seandainya aku tetap menenmaninya..... ini salahku......"
Jefry tidak melanjutkan kata-katanya. ia menangis tanpa suara. jasad Galang masih belum ditemukan di pantai selatan. aku mulai berfikir, apa yang bisa aku lakukan untuk menemukannya. polisi dan tim SAR sudah berusaha mencari. tapi aku harus menemukan cara lain untuk menemukan sahabatku.

ayahku.....

malam itu ayah sedang menonton TV seperti ayah normal pada umumnya, hanya saja tombak-tombak jaman sebelum penjajah datang yang dipajang di samping TV itulah yang membuatnya tidak terlihat normal. dia menoleh sebelum aku mendekatinya.

"ada apa, le?" tanya ayahku pelan. Le adalah kependekan dari tole, panggilan untuk anak lelaki.
"emmmm, yah. aku.... mau mencari Galang..."
"yaa. kamu sudah siap mental?"
"demi Galang, yah"
"nyalakan dupa, taruh di depan pagar. lalu bacalah doa-doa ini sebelum kamu tidur."

aku menurut tanpa banyak bicara. kupasang dupa di pagar rumah dan membaca doa-doa sebelum tidur. dalam hitungan menit, aku terbangun di sebuah tempat asing. seperti lapangan. banyak jasad bergelimpangan. petuah ayah..... bekerja?!

aku melihat sekitar, mencari wajah Galang, tapi tidak ada. jadi aku mulai melangkahkan kaki untuk mencari lebih jauh. namun tiba-tiba jasad-jasad itu bangkit. seperti zombie, tapi bukan.
"kamu siapa, le?"
"apa yang kamu lakukan disini, le?"
"kamu bisa menolong kami?"
"keluarkan kami dari sini..."

suara-suara itu ramai memenuhi telingaku. aku berlari mencari pertolongan, dalam bentuk apapun itu. tiba-tiba aku dihadang sejumlah pasukan berbaju kuning. sangat tradisional seperti jaman kerajaan dulu.

"Hey, siapa kamu? apa yang kamu lakukan disini?!"
"saya... mau mencari teman saya..."

lalu ada sesuatu yang menepuk pundakku. aku menoleh. ada seseorang dengan jubah hitam dan wajah brewok.
"pergi dari sini, le"
"tapi saya mau mencari teman saya"
"pergi!"

aku berlari tanpa tujuan. tau-tau aku masuk kedalam sebuah ruangan seperti kamar kerajaan. ranjangnya kuno, ada selambunya yang juga berwarna kuning. disana ada tubuh seseorang yang terbungkus kain kuning dan dijaga banyak orang. Galang!

aku mendekatinya. dua orang penjaga menyodorkan tombaknya ke arahku. tau-tau orang berjubah hitam itu menghadang mereka.

"aku suruh kamu pergi, kenapa malah kemari?"
"saya harus membawa teman saya!"
"kamu mau mati?! pergi!"
"tidak, saya harus menyelamatkan teman saya!"
"biar teman kamu jadi urusan saya, kamu pergilah, selamatkan dirimu!"
"memangnya bapak ini siapa?!"
"saya utusan sunan Giri. pergilah. percayakan temanmu pada saya"
"tapi, saya harus pergi kemana? sekeliling saya hanyalah tembok"
"tabrak saja, lalu kembalilah pulang."
"tapi, diluar situ tidak terlihat apa-apa"
"percayalah pada iman mu. cepat, sebelum mereka mengejarmu!"

aku menoleh kebelakang. pasukan berbaju kuning siap menikam dengan tombak. didepanku juga ada banyak sekali pasukan berbaju kuning. aku berlari kesamping, apapun yang terjadi, terjadilah. kutabrakkan diri ke dinding dan...... aku melayang.......... terbang!

aku melayang tanpa arah yang pasti. tiba-tiba aku melihat setitik cahaya kecil. ada kehidupan! rupanya sebuah warung dengan seorang bapak-bapak biasa penjual warung.

"permisi, pak. ini dimana, ya?"
"ini di gunung Lawu, mas. mas mau kemana?"
"saya mau ke Gresik, pak"
"oh, Gresik ke arah sana, mas. cepatlah, dibelakang ada yang mengejar..."

aku menoleh ke arah yang ditunjuk bapak tadi tanpa mau menoleh ke belakangku. langsung saja aku pergi, melayang lagi. tak tau arah. semua gelap. lalu aku melihat secercah cahaya lagi. aku kembali turun.

"permisi, pak. ini dimana, ya?"
"ini gunung Kawi, le. kamu mau kemana?"
"ke Gresik, pak"
"Oh, kearah sana le."
"matur nuwun, pak"

aku melayang lagi. aku tidak berpikir, kenapa orang-orang yang kutemui ini tidak ketakutan? apakah mereka bukan manusia?

aku terbang merendah. mulai kulihat lampu kota. itu gerbang kotaku. kulihat ada Naga bertengger disana. besar sekali. seingatku, gapura kotaku memang ada patung naga, tapi tidak sebesar itu. dan, naga besar itu menggeliat. Sial! dia bangkit dan menghadangku. tidak, bukan aku yang dituju. matanya menatap tajam ke belakangku. pasuka berbaju kuning itu. Naga itu menjagaku!

aku masuk ke kota, kuikuti jalan menuju rumah. tepat di depan rumah, suasana terlihat ramai. seperti orang tahlilan. tunggu dulu, jangan bilang aku yang meninggal? aku buru-baru masuk ke kamarku. tubuhku masih terbaring. tiba-tiba aku merasa seperti ditarik magnet super kuat dan mataku terbuka. aku hidup! aku langsung berlari keluar kamar. orang-orang itu sudah tidak ada. siapa mereka sebenarnya?

aku berlari ke kamar ayahku. kubangunkan beliau. Ayah menggeliat.

"Ono opo, le? habis mimpi gak enak, ya?"
"itu tadi.. semua itu... apa itu, yah?"
"kamu sudah menmukan temanmu?"
"sudah. dia di ruangan khusus. dijaga banyak orang. apa maksudnya?"
"temanmu itu rupanya orang pilihan. lalu?"
"aku dikejar banyak pasukan berbaju kuning. dilindungi orang berjubah hitam yang mengaku anak buah sunan Giri. diberi petunjuk jalan oleh penjaga warung di Gunung Lawu dan Kawi. lalu dilindungi oleh Naga penjaga Gapura. dan banyak orang didepan rumah seperti tahlilan. aku pikir aku akan mati, yah"
"ya. orang berjubah hitam itu anak buah Sunan Giri, teman ayah. orang-orang didepan rumah itu juga teman-teman ayah yang menjaga ragamu. Tenanglah, besok jasad temanmu akan ditemukan. tapi entah degan jiwanya. karena dia terpilih."

malam itu aku tidur dengan ayah. esok paginya, jenazah Galang ditemukan di pantai yang lain, sekitar 50km dari pantai tempatnya hilang. sejak saat itu, aku percaya, hal-hal seperti itu memang ada. hanya saja aku tidak ingin lagi terlibat didalamnya. Aku hanya bisa mendoakan, dimanapun Galang berada, semoga dia yang terpilih selalu aman sentosa.


Semenjak kematian Galang, teman-temanku agak trauma berlibur ke pantai. beberapa bulan berlalu, kali ini kami ingin berwisata ke Gunung Lawu. aku agak takut, mengingat pengalamnku saat itu. tiba di puncak gunung Lawu, rupanya ada sebuah warung disana. syukurlah, kami tak perlu repot membuat kopi sendiri. kami berjalan menuju warung itu.

"permisi, pak. kami mau beli makanan."
"Iya, iya. sebentar." pak tua penjaga warung itu menatapku. "Lho, le, kamu kembali kesini?"

Pak tua itu, yang membantuku menunjukkan jalan pulang. rupanya beliau manusia biasa!
pak tua itu terkekeh. rupanya dia sudah biasa didatangi makhluk-mahluk seperti itu.

-sekian-

lagi-lagi, susah membuat ending yang tepat *sigh*
btw, kisa ini fiktif belaka. hanya terinspirasi dari kisah nyata yang berkembang di masyarakat sekitar.